Segeralah Mengikat Ilmu!
"Carilah ilmu di kepalamu! Jangan mencari di buku catatanmu!"
Ungkap dosen saya, Dr.Shubhy disela-sela pengajaran beliau dalam mata kuliah analitik hadits.
Jemari saya yang selalu sibuk mengejar penjelasan dosen dengan memindahkannya ke buku catatan seolah-olah terhenti sejenak.
Memang betul nasihat beliau. Sebab tanpa disadari menulis zaman sekarang dijadikan tempat menukil saja yang cuman untuk dikenang. Beralih fungsi dari tempat mengikat ilmu yang ke-2. Sebab seharusnya mengikat ilmu yang utama adalah di shudur (jiwa) baru kemudian di sutur (tulisan).
Maka adab utama pada ilmu adalah segera mengikatnya terutama di jiwa kita, lalu dituliskan. Berharap tulisan sebagai amal jariyah kelak, dan pengingat di kala lupa.
Jangan menjadikan tulisan sebagai andalan 'ikatan' tanpa belum tertancap di jiwa sebelumnya.
Dan jangan juga enggan mengikat bila alat-alat pengikat tak cukup tersedia.
Sebab seorang pemuda di usia belasan ditegur oleh Sang syeikh Faqihnya kota Madinah. Lantaran si pemuda bergoyang-goyang jemarinya di majelis hadits , sementara yang lain hanya terdiam mendengarkan.
Si pemuda dengan tulus mohon maaf bahwa itulah caranya menghafal ilmu. Karena ia tidak punya alat tulis, jemarinya ia pergunakan sebagai perantara untuk mengingat.
Sang Syeikh mengetes secara langsung hafalan si pemuda tadi. Dan puluhan hadits dari sanad dan matan dituturkannya tanpa salah.
Allahu Akbar! Laa Haula wa laa quwwata ilaa billaah.
Lalu siapa si pemuda tadi?
Si Pemuda yang rajin mengikat ilmu di jiwa dan tulisan ialah Al-Imam Asy-Syafi'i.
Mari segera mengikat ilmu di jiwa kita dan mohon pada Allah SWT agar menjaga pengikat ilmu kita.
Komentar
Posting Komentar