Gaya Belajar Khalil : Di mana pasangannya?
Khalil mengambil mainannya berupa pesawat yang ukurannya cukup besar. Saat ia membawanya, terlihat sayap sebelahnya lepas.
Abinya lengkas mengkoreksi "Di mana pasangannya?" sambil menunjuk pada bagian yang lepas.
Khalil menoleh ke belakang, ke tempat ia mengambil mainannya. Dan lekas mengambil sayap sebelahnya.
MasyaAllah!
Kemudian saya memeragakan memasangnya dan mencopot kembali bagian sayapnya. Dan menanyakan kembali dimana pasangannya.
Ia melirik kesekitarnya. Dan mengambil pasangan bagian pesawat itu kembali sambil teriak "Aha! Hah!"
Pengamatan Kami
1. Gaya belajar yang cocok dalam hal ini adalah visual
2. Tidak banyak instruksi karena itu akan memecah fokusnya.
Saya teringat Dr. Yehia bahwasanya ketika anak-anak bermain dengan mainannya, pastikan mainananya berbentuk untuh alias tidak dalam keadaan rusak. Bila rusak, alangkah bijak sang orangtua memperbaikinya dulu jika memungkinkan. Jika tidak mungkin, jangan diberikan lagi ke anak.
Kenapa?
Agar anak tidak dibiasakan berinteraksi dengan kerusakan.
Apa yang anak lihat bukan hanya menjadi memori, tapi melekat dijiwanya . Maria Montessori.
Jika terbiasa dengan kerusakan, anak akan menganggap lumrah hal-hal yang rusak. Sehingga saat dewasa naudzubillahimindzalik jiwanya memiliki bibit perusak.
Dengan mengkoreksi mainan yang akan dimainkan Khalil, saya harap dia menjadi teliti perbedaan mainan yang utuh dan rusak.
Komentar
Posting Komentar