Kamu Punya Uang?
"Kamu Punya Uang?" Tanya seseorang berkebangsaan yang giginya sangat putih ketika saya menanyakan apakah ia punya kertas putih, sebab saya hendak fotokopi. Tapi qadarullah saya tidak punya kertas dan berjumpa dengannya yang saya kira membawa banyak kertas putih.
Ia berujar "Kalau kamu punya uang, kamu bisa beli di maktabah dekat kafetaria. Tapi kamu lebih baik mencari yang gratis dengan menumpang fotokopi di kantor kampus" Lanjutnya, saat saya menjawab bahwa saya ada uang.
Berulang kali ia menganjurkan agar saya mencari yang tak perlu membayar.
Saya hanya terdiam menanggapinya sembari mencari ide bagaimana cara agar saya bisa fotokopi dengan cepat sebab agar urusan administrasi tak menjadi urusan panjang.
Akhirnya, saya membeli kertas dan fotokopi di kantor kampus.
Saya merenungi ujar kawan saya tadi, bahwa persoalan kaya bukanlah tentang seberapa uang yang bertengger di kantong. Namun, lebih jauh dari itu, yaitu sejauh mana kita pandai mengelola uang.
Ada orang-orang yang banyak menghabiskan uangnya lantaran ia kaya, dengan membeli kemewahan dengan mudah. Semudah membeli gorengan di pagi hari tanpa perlu pusing memikirkan alokasi untuk buku pelajaran, atau infak bahkan keperluan terbaik untuk anak-anaknya. Karena bagi mereka harta yang dimiliki itulah yang mereka punya. Sedangkan pemberian serta alokasi untuk amal jariyah itu memangkas harta-harta mereka.
Ada orang-orang yang tak melulu menomersatukan kemewahan, namun ia punya kemewahan di dalam akalnya. Ilmunya banyak, hikmah kehidupannya pun banyak. Selain kegemarannya mengalokasikan uang untuk ilmu atau semisalnya, ia suka berderma meski hanya membeli sapu kecil agar sang pedagang sapu laris dagangannya. Orang seperti ini mulia hartanya. Meski secara zahir tak nampak kemewahan, namun amal jariyahnya di mata Allah sudah melebihi para bilioner di dunia.
Teringat para sahabat Rasulullah SAW yang kaya raya hartanya, namun ia sudah niatkan untuk jalam dakwah. Hingga wafat ia tak memiliki apa-apa lagi lantaran ia sudah sedekahkan semuanya.
Masya Allah!
Saya berharap bisa menjadi dan mendidik anak-anak saya kelak seperti para sahabat r.a.
Komentar
Posting Komentar