Sang Ayah Teladan

Anak laki-laki selayaknya tumbuh dengan fitrah seksualitas yang paripurna
sebab maskulinitasnya menghantarkan pada kesejatian dalam memimpin, bertanggung jawab, tegas, berani berkorban, berpikir inisiatif
Feminitasnya menghantarkannya untuk menahan emosi, sabar, empati, lembut ketika dibutuhkan.

Lalu bagaimana agar membesarkan anak laki-laki pada zaman yang penuh kengerian ini?

adalah sosok ayah yang inisiatif, berani, berjiwa besar,
yang bisa kita teladani dari Sang Visoner sejati yaitu Nabi Ibrahim A.S
apa saja role model yang ia tularkan pada  Nabi Ismail A.S ?

Ada hal menarik yang bisa kita kupas mengenai hal tersebut. Yaitu Nabi Ibrahim  Inisiatif dalam bertindak
Dalam suatu riwayat, dikisahkan Nabi yang hobi berderma ini berkurban 1000 ekor domba, 300 ekor sapi dan 100 ekor unta. Ia yang belum dikaruniai keturunan kemudian bernazar " Ya Allah jika aku memiliki anak, maka akan aku kurbankan demi Engkau"
Inisiatif Nabi Ibrahim ini menuntunnya untuk ridha dengan segala takdir yang Allah tentukan. Karena kelak Allah mewahyukan padanya agar untuk menyembelih Ismail yang pada saat itu berusia 13 tahun. Tentu sosok yang berinisiatif bertindak dalam bernazar seperti itu memiliki motivasi internal yang tinggi.

Sebab mengorbakan yang ia miliki termasuk anak yang ia cintai tentu sudah memiliki benteng iman dan cinta pada Allah yang tak lekang oleh takdir apapun.

Seorang ayah yang memiliki inisiatif yang tinggi dalam menjemput keridhaan-Nya dalam kesehariannya tentu tak jauh dari inisiatif-inisiati yang mengagumkan lainnya.

Maka PR kita sebagai orangtua salah satunya adalah bagaimana menumbukah motivasi internal serta sifat inisiatif pada anak-anak kita kelak.

Pada Usia 0-7 tahun
Anak-anak balita yaitu 1-3 tahun memiliki masa meniru dengan cepat. Layaknya mesin fotokopi ulung, apa yang terekam di kepalanya langsung ditiru bahkan terserap di jiwa.
Sebagaimana dokter pediatric Maria Montessori berkata "Apa yang dilihat anak-anak bukan hanya menjadi ingatan tapi tertancap di jiwa"

Contoh kongkrit :
Hari ini tepat usai azan zuhur, Khalil dengan sigap mengambil baju abinya dari keranjang. Ia memakai baju sendiri sambil berseru "Baju abi!!"
Saya tahu ia bermaksud ingin shalat menggunakan baju itu, saya pun bersegera wudhu dan mengajaknya shalat bersama.

Usai saya salam, Khalil masih melakukan gerakan shalat dan juga bibirnya komat-kamit bak orang shalat sesungguhnya. Bahkan ia berganti posisi dari atas sejadah kemudian shalat di atas lantai sembari beberapa kali membetulkan bajunya karena miring.

Khalil beriusia 21 bulan, karena sering melihat kami jika hendak mau shalat saya memakai mukena, juga abinya berganti baju shalat maka ia pun meniru itu juga.
Pernah bahkan saya memergoki ia ingin mengambil mukena saya, lalu saya cegah dan jelaskan bahwa laki-laki tidak pakai mukena.

Itu hanya sebagian cuplikan dari hal-hal yang ditiru olehnya.

Renungan:
Bayangkan jika dalam keseharian kita, benar-benar kita upayakan agar anak melihat hal-hal yang memantik sifat inisiatif dan motivasi internalnya. Kemudian dilatih di usia pra balita, dijaga agar kelak ketika masa baligh tiba, agar kemudian sifat-sifat tersebut lah pemicu kematangan aqil si anak.

Maka ketika anak sudah matang aqil nya, saat masa baligh  tiba, ia akan lebih bertanggungjawab, dewasa, dan berhati-hati akan setiap keputusan yang ia ambil.
Dan itu lah yang setiap orangtua harapkan.

InsyaAllah tak akan ada cerita anak-anak tabrakan karena ngebut-ngebutan di jalanan, pengedar narkoba, pemerkosa, LGBT, frustasi karena pekerjaan, pengangguran  dll

sumber :
An-Nisa fi hayatil Anbiya,Ma:mun
Tafsir Ibnu Katsir

Komentar

Postingan Populer