Peran Orangtua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas

Sempat saya singgung di tulisan hari ke-2 bahwa anak-anak usia 6 tahun kebawah sudah memasukan tema-tema jenis kelamin , anggota tubuh yang merupakan aurat ke dalam perbincangan mereka. Padahal kita tahu usia seperti itu adalah masa-masanya anak-anak berbincang mengenai benda-benda kesukaan , atau permainan kesukaan.

Maka pertanyaannya, kenapa anak tersebut bisa bertanya hal itu?

Menurut Pak Karmin salah seorang psikolog, memang akibat pergeseran zaman, tema-tema yang dikira tabu di zaman dahulu bagi usia kanak-kanak di zaman ini menjadi tren. Sehingga perlu pembekalan dari sang ortu kepada sang anak.

Ujung-ujungnya peran orangtua yang perlu di evaluasi.
Mari kita sama-sama belajar mengenai peran orangtua.

Peran adalah suatu rangkaian aktivitas yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisi sosial baik secara formal atau informal.

Prinsip-prinsip Mendidik Fitrah Seksualitas :
1. Kedekatan dengan ayah dan ibu menjadi faktor penting sebagai faktor keseimbangan hingga usia aqil balig (15 tahun)

2. Ayah berperan mensuplai maskulinitas dan ibu berperan mensuplai feminitas secara seimbang.
Anak laki-laki membutuhkan 75 % maskulinitas dan 25 % maskulinitas.
Anak perpempuan membutuhkan 75 % feminitas dan 25 % maskulinitas

3. Tanda peran orangtua paripurna adalah terwujudnya keayahan sejati pada anak laki-laki dan keibuan sejati pada anak perempuan.

Upaya agar kelak anak-anak siap dengan beban taklif :
1. Tanamkan iman kepada Allah SWT

2. Ceritakan sosok-sosok teladan dari Rasulullah SAW serta para sahabat dan salafu shalih

3. Hindari dari pertontonan dan pendengaran yang menjurus pada kerusakan fitrah seksualitas

4. Tanamkan visi misi perubahan agar menjadi agent of change pada umat sehingga timbul semangat berbuat kebaikan.

5. Arahkan anak agar mendapat pemahaman agama yang baik agar memiliki benteng yang kuat.

6. Dukung anak-anak dengan kegiatan positif sehingga mereka sibuk dengan hobi atau minatnya.

7. Siap menjadi tempat pendengar setia bagi anak-anak. Sehingga kita sebagai orangtua dipercaya untuk dilibatkan dalam permasalahan mereka. (Mereka tidak enggan curhat pada kita)

Kesimpulan dan Catatan Penting
Anak pada usia 6 tahun kebawah memiliki fase hunger minds sebagaimana penelitian Montessori. Pada masa tersebut anak sangat aktif mencari tahu entah itu dari temannya, atau media lain. Ketika ada ruang kosong alias anak-anak tidak sibuk dengan aktivitas yang bermanfaat, kemudian bertemu teman-teman yang masih dalam proses perbaikan fitrah seksualitasnya, timbulah percakapan menjurus : ingin melihat kelamin, ingin megang, dst. naudzubillahi min dzalik.

Apalagi media sudah gencar membumbui hal kanak-kanak dengan hal-hal dewasa.

Perlu peran orangtua yang optimal (terinci) alias bukan hanya memberikan anak media (buku atau mainan) namun benar-benar diarahkan. Minimal ada halaqah rutin dengan anak. Ini pun bagus untuk mempererat ikatan antara anak dan sang ortu.

Maka sedari sekarang sudah selayaknya sang ortu bersiap-siap :
1. Hal-hal apa saja yang akan dijelaskan untuk anak.

2. Pilihan kata apa saja yang perlu diperdengar anak.
dst.

Allahummahdinaa ilaa ridhaaik yaa rabb
Kami mohonkan ridha-Mu dalam mendidik anak-anak kami yaa Allah. .

(Dalam resah gelisah, Kairo 10 Agustus 2019)

Komentar

Postingan Populer