Hati-hati dengan Ghashab
Kala itu Khalil menemani saya menjadi moderator di depan. Alhamdulillah setelah sounding, ia duduk anteng sambil makan tanpa bilang "popok...popok..." sebab jika ia bilang seperti itu ,pertanda ia sudah pup. Jika sudah pup saya harus pause sebagai moderator dan lari ke WC untuk menggantikan popoknya. Namun hal seperti itu alhamdulillah tidak terjadi.
Mendekati akhir acara, ia mulai tertarik dengan snack yang disuguhi panitia berupa sepiring kue bolu pandan, bolu coklat, bolu vanila serta sepiring bakwan. Khalil memberi sinyal dengan minta turun dan menunjuk bolu.
Saya tahu snack itu untuk kami berdua saya sebagai moderator dan bu dokter Aan yang sedang mengisi materi mengenai 'Menjadi Dokter di Rumah Sendiri'.
Yang saya tidak tahu pasti adalah jumlahnya apakah sama rata, atau tidak. Namun saya lebih suka jatah kue saya untuk bu dokter Aan. Sebab beliau lebih berhak mendapatkan kue lebih banyak.
Yang saya tidak tahu pasti adalah jumlahnya apakah sama rata, atau tidak. Namun saya lebih suka jatah kue saya untuk bu dokter Aan. Sebab beliau lebih berhak mendapatkan kue lebih banyak.
Akhirnya saya bisiki Khalil "Nak, Khalil boleh makan bolu hanya sedikit ya, sebab itu semua bukan hanya punya ummi" sembari mengambilkan bolu pandan untuknya.
Setelah ia makan satu buah, ternyata ia minta lagi hingga yang ke-tiga kali namun ia tidak menghabiskannya lantaran kekenyangan. Dan disetiap ia meminta , saya selalu selipkan "bilang dahulu sama ummi ya..."
Saya teringat juga kegiatan sehari-hari bersama Khalil, bila ia menemukan benda punya temannya, kadang ia menunjuk (tanda sebagai izin untuk memegang), terkadang ia langsung ngambil. Di usianya 14 bulan tentu masih dalam masa pembiasaan untuk perizinan mengambil / meminjam benda. Saya percaya suatu saat biiznillah itu menjadi karakternya kelak.
Adab meminta izin sudah Rasulullah SAW wasiatkan kepada kita "Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya" HR. Abu Daud, dan dishahihkan Imam Albani dalam kitab Shahihul Jami.
Adab meminta izin memiliki baramg orang lain sudah sepantasnya bukan hanya hal-hal besar, namun hal-hal kecil.
Entah di dunia nyata, atau maya.
Jika tidak meminta izin, maka itu termasuk perilaku ghasab yang sudah banyak para ulama membahas panjang lebar mengenai perilaku yang tidak Allah ridhai itu.
Jika tidak meminta izin, maka itu termasuk perilaku ghasab yang sudah banyak para ulama membahas panjang lebar mengenai perilaku yang tidak Allah ridhai itu.
Saya pernah merasakan foto hasil jepretan saya sendiri di instagram diambil orang tanpa izin dan dishare di medsos lain ditambahkan kalimat memperolok. Entah tujuannya apa wallahu 'alam
Pernah juga tulisan saya diakuisasi oleh orang lain di medsos disebarkan seolah-olah hasil pikirannya sendiri.
Bahkan diri saya pernah diakuisasi sebagai 'guru spiritual pekanan' orang lain. Padahal tidak pernah.
Ya Allah...
Saya berpikir apa serendah itukah kehormatan saudara sesama muslim, hingga untuk bilang "maaf boleh izin simpan fotonya...?"
"Maaf boleh izin menyimpan tulisannya?, dsb lidah kita terasa kelu?
Padahal jika kita berpikir lebih jauh , segala milik orang lain tentu merupakan hasil upaya bahkan bisa jadi bermodalkan banyak hal. Baik itu materi atau non materi. Maka selayaknya kita meminta izin dahulu jika ingin memilikinya.
Mari kita sama-sama bebenah diri, sebab ke Surga akan menjadi sepi jika kita sibuk dengan diri sendiri dan abai akan kewajiban saling mengingatkan dalam ketaatan.
***
Photo was taken by Nailah

Komentar
Posting Komentar