Enam Waktu Berharga

Pernahkah kita merasa susah banget klik dengan anak atau pasangan kita?
Misal, anak kita lagi susah diatur, rewel, males makan, tanturm dsb . Membuat kita gemes bahkan hingga ubun-ubun rasanya mendidih?

Atau pasangan kita tiba-tiba naudzubillahi min dzalik jadi seseorang yang sikapnya bikin kita berkerut dahi atau bahkan sampe ingin mendiamkannya?
Ah memang lika-liku rumah tangga tak mungkin melulu semanis madu. Atau, tidak mungkin juga melulu sepahit buah zaitun.

Sebagai wanita yang perasaannya lebih halus dari pada makhluk halus (Hehe...ini survey bapak-bapak nih katanya...) keseharian sebagai istri dan ibu selalu bergelut dengan emosi. Kadang bisa jadi kita pendam atau bahkan terlontar kata-kata minimal 20.000 kata.

Kebetulan saya pernah menghadapi episod anak (10 bulan) lagi rewel dan nggak selera makan sayuran. Padahal saya sebagai mamak nya yang lagi semangat-semangatnya bikin makanan bergizi ala-ala WHO jadi merasa sedih. Di kala merasa terpuruk itu lah Allah kasih saya solusi berharga. Yaitu, insya Allah tak lepas doa khusus di enam waktu. Lima waktu usai shalat fardhu dan satu waktu di shalat sunnah malam. Ini saya dapatkan ketika membaca kisah nyata seorang ibu yang susah mengatur anak. Bahkan si anak tersebut cuek pada si ibu. Ibaratnya bonding antara ibu dan anak itu kosong. Lalu si ibu diberi nasihat agar meridhai kelakuan sang anak. Setiap shalat malam, sang ibu berdoa "Allahumma innii rhaadiyah bi ibnii...(sebut nama si anak) ala kulli syai". Ya Allah saya ridha dengan anak saya atas segalanya. Allah Yang Maha Membolak-balikan hati sang anak dengan cepat membuat perubahan. Si anak tetiba rajin shalat, tetiba peduli dengan sang ibu, dsb.

Saya terenyuh, betapa keridhaan kita membersamai anak bisa menjadi efek. Tentu atas kehendak-Nya. Coba kita pikir-pikir, siapa yang bisa membuka mulut anak hingga jadi lahap makan? siapa yang bisa menuntun anak rajin belajar? siapa yang bisa menumbuh-kembangkan gigi, berat dsb pada anak?
Hanya Allah SWT yang bisa. Maka saya coba trik tersebut.

Pertama, saya taubat setaubat-taubatnya sama Allah. Taubat karena hampir suuzhan dalam menghadapi anak, taubat atas dosa-dosa saya saat bermuamalah sama anak, taubat atas dosa-dosa yang banyak.
Lanjut,setiap usai shalat saya doa ridha serta cantumkan masalah yang saya hadapi. Misalkan saya shalat zhuhur, saya ingat saat pagi anak saya kurang lahap makan dan lempar-lempar nasi, saya utarakan pada Allah "Allah   saya ridha anak saya nggak lahap makan dan buat lantai kotor, saya mohon buatlah ia lahap makan dan tidak lempar-lempar makanan lagi"

Apa yang terjadi? Anak saya dalam waktu kurang seminggu sudah lahap makan sayuran, tiba-tiba dalam sehari giginya tumbuh padahal tanda-tanda tumbuh gigi masih minim. Alhamdulillahiladzi bini'matihi tatimushaalihaat, meski lagi sakit pun jarang meraung-raung.

Siapa lagi yang bisa kecuali Allah?

Ah, begitupun tentang pasangan. Misalkan ada dongkol di hati kita sebab ia telat menjemput, atau pelupa, lagi cuek, dsb mari kita ridhai tindak-tanduknya.

Kita ridha pada Allah, maka Allah ridhai kehendak perubahan yang kita inginkan.
Saat kita nggak ridha, bagaimana bisa Allah mau meridhai kedongkolan kita?

Komentar

Postingan Populer