Menemani Buah Hati dengan Sepenuh Hati

Mentadabburi ayat ini:

 إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

Jika tidak ada hubungan yang kuat, dekat antara anak dan orangtua, maka sang anak tidak akan menceritakan mimpinya, atau bahkan yang dialaminya.

Jika keluarga adalah bangunan, maka kuatnya hubungan atara anak dan orangtua adalah batu pertama dalam membangun keluarga yang kokoh.
.

Membersamai Khalil, masya Allah butuh amunisi, kesabaran, lapang dada. Ia hanyalah balita yang sedang mengalami masa pertumbuhan.

Cukup lama saya berupaya terkoneksikan terus menerus ketika ia emosi. Meski pernah mengalami kegagalan, tapi saya tidak mengutuki diri saya. Saya bangkit, untuk lebih memahami, untuk terus belajar.
Karena setiap orangtua pasti pernah melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang menyesal dan memperbaiki diri (taubagan nasuha)

Hal yang saya tersadarkan dengan tadabbur hari ini adalah masa-masa berkisahnya Khalil kepada saya.

"Mi, khalil tadi keluar pipisnya sedikit"
"Mi, tadi khalil main air di gelas, terus tumpah, terus Khalil ambil lap, terus Khalil lap deh"
"Mi, tadi Khalil ambil kertas di tas ummi, terus Khalil simpqn lagi"

Ada banyak hal yang ia ceritakan dengan jujur kepada saya .
Jika orangtua mendengar pengakuan dari anak, tetapi orangtua itu sedang eror, maka bisa jadi si anak malah dimarahi.

Sangat disayangkan, padahal berkisah oleh anak adalah salah satu tanda ia percaya dan merasa dekat dengan kita.

Ketika memori-memori sang anak sedang ia utarakan, alangkah baiknya mulai menyelipkan hal-hal positif. Seperti nasihat.


Komentar

Postingan Populer